Edit

Kontak Kami

  • Jl. K.H. Wahid Hasyim No.194, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10250
  • +62-21-3922213
  • +62-21-3905558

Leiden is Lijden

 Leiden is Lijden

Dalam perjalanan safari politik mengelilingi sebuah kabupaten di pulau Kalimantan, saya tiba-tiba teringat akan pepatah lama Belanda yang digunakan Mr Mohamad Roem untuk menggambarkan kehidupan Haji Agus Salim, Leiden is Lijden. Leiden artinya memimpin sedangkan lijden artinya menderita, memimpin adalah menderita.

Haji Agus Salim yang berjulukan The Grand Old Man adalah seorang diplomat ulung yang berulangkali menjadi delegasi Indonesia dalam berbagai perjanjian dengan Belanda. Meski pernah menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia namun Agus Salim tidak mengumpulkan harta yang banyak. Beliau bersama keluarga tinggal di gang kecil dan becek di pelosok Jakarta.

Dalam konteks inilah Mr Mohamad Roem memakaikan pepatah Belanda itu untuk menggambarkan betapa Agus Salim sebagaimana pemimpin lainnya ketika itu memimpin Indonesia dengan kondisi yang cukup menderita dalam ukuran pejabat negara.

Lalu siapa yang tidak kenal Mohammad Hatta ? Proklamator dan Wakil Presiden Indonesia pertama asal Sumatera Barat ini juga dikenal hidup sederhana di masa pengabdiannya. Hingga wafat, Hatta tidak pernah kesampaian membeli sepatu merek Bally yang di idam-idamkannya bahkan tagihan listrik rumahnyapun tiada terbayar.

Hatta sesungguhnya berasal dari keluarga kaya di Bukittinggi. Ayah angkatnya Agus Haji Ning adalah seorang pengusaha sukses yang juga memiliki kuda pos di Bukittinggi. Semasa sekolah Hatta bahkan memiliki kereta boegi sendiri yang siap mengantar kemana pergi. Ketika sekolah di Belandapun ia menerima beasiswa dari Yayasan Van Deventer dan tentu saja tak kekurangan uang dari kiriman keluarganya.

Zona nyaman itu tidak membuat Hatta merasa puas. Ini yang membedakan orang biasa dengan seorang pemimpin. Demi aktivitas politiknya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Hatta rela ditangkap dan dibuang Belanda hingga ke Boven Digul. Padahal ia bisa begitu saja menikmati hidup nyaman dengan kekayaan yang keluarganya miliki.

Hatta dan Agus Salim menjadi contoh betapa memimpin itu adalah juga kesiapan untuk merasakan penderitaan. Mereka rela meninggalkan zona nyaman demi memperjuangkan kemaslahatan bangsanya. Mereka boleh miskin secara ekonomi namun tetap menjaga integritasnya.

Apakah pepatah memimpin adalah menderita ini masih relevan untuk Indonesia kekinian ? Tentu saja kita tidak bisa menyamakan kondisi Indonesia dulu dengan kini karena memiliki ruang dan waktu yang berbeda.

Indonesia kini sudah menjelma menjadi negara yang jauh lebih maju dan memiliki anggaran yang cukup untuk menjalankan roda perekonomian dan pemerintahan. Pemimpin sekarang yang menduduki jabatan publik sudah dapat menikmati kekayaan cukup bahkan jauh melebihi pendapatan rata-rata rakyatnya. Bahkan kerap kita menyaksikan pemimpin di Indonesia hidup diselubungi kemewahan. Mobil dinas yang mengkilap, rumah dinas yang mewah dan segala fasilitas yang memberikan kenyamanan.

Setiap lima tahun sekali pemimpin dipilih silih berganti. Walikota, Bupati, Anggota DPRD, Anggota DPR hingga presiden dipilih langsung oleh rakyat. Namun kita masih melihat betapa harapan rakyat masih belum tercapai. Kesejahteraan masih belum merata, kesenjangan ekonomi masih menganga bahkan banyak pemimpin terpilih kemudian diadili karena melakukan korupsi uang rakyat.

Dalam kondisi bernegara saat ini tampaknya faktor keinginan menjadi pejabat publik lebih kepada ketertarikan terhadap kekuasaan dan fasilitas yang menyertainya. Ketika kekuasaan kemudian berada di tangan, mereka rentan menyalahgunakan kekuasaannya. Sejalan dengan apa yang dikatakan Lord Acton, kekuasaan cenderung korup (power tend to corrupt).

Dengan segala kompleksitas permasalahannya, Indonesia membutuhkan pemimpin yang benar-benar memiliki motivasi untuk memimpin perubahan. Pemimpin yang mau meninggalkan zona nyaman seperti Hatta dan Agus Salim dan bukan pemimpin yang justru mencari zona nyaman itu sendiri. Pemimpin yang rela mengorbankan waktu dan pikiran, mengorbankan urusan pribadi demi kepentingan bangsa dan negara. Pemimpin yang menghayati Leiden is Lijden.

Tentu kita tidak ingin pemimpin kita akan menderita ekonominya seperti Agus Salim dan bahkan Hatta karena pemimpin saat ini sudah difasilitasi oleh negara dengan sangat baik. Justru karena mereka mendapatkan fasilitas yang sangat baik itu kita layak menuntut mereka mengeluarkan segenap kemampuan untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia. Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur sebagaimana cita-cita kita bersama.

Sejenak saya terpekur dan menyadari bahwa saya belumlah siapa-siapa dalam dunia politik ini. Namun dalam safari politik ini saya semakin menyadari bahwa tidak ada pemimpin sejati yang terlahir dari zona nyaman. Pemimpin hebat terlahir dari rahim kegelisahan dan karena itulah mereka harus siap untuk menderita dan dibully.

Dari sejarah pendiri republik kita bisa belajar banyak hal untuk masa kini. Masa kini adalah sejarah yang sedang berlangsung untuk masa depan. Karena itu sebagai anak bangsa mari kita mengukir sejarah masa depan dengan memberikan hal terbaik di masa kini.

Komentar Facebook