Edit

Kontak Kami

  • Jl. K.H. Wahid Hasyim No.194, Tanah Abang, Jakarta Pusat 10250
  • +62-21-3922213
  • +62-21-3905558

Ingat Imlek Ingat Gus Dur

 Ingat Imlek Ingat Gus Dur

“Nak, hidup Bapak itu pertama untuk Islam, kedua untuk Indonesia, ketiga untuk NU dan yang keempat untuk keluarga”. Itulah pernyataan Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang pernah diucapkan kepada putri sulungnya, Alissa Wahid. pernyataan Gus Dur ini tiba-tiba melintas di linimasa twitter saya dalam bentuk teks bergambar yang diunggah oleh Jaringan GusDurian.

Bagi saya, pernyataan ini dalam sekali maknanya. Seorang Gus Dur lebih mementingkan pengabdian kepada umat dan negara jauh diatas kepentingan keluarga. Yang lebih mengagumkan bagi saya, Gus Dur tidak hanya sekedar menata kata begitu saja namun juga membuktikan pernyataan itu dalam tingkah dan lakunya.

Komitmen Gus Dur untuk Islam sudah tak perlu kita ragukan lagi. Beliau sudah dikenal sebagai intelektual muslim sejak muda. Berbagai tulisannya yang berisi pemikiran yang mencerahkan tersebar di berbagai media. Gus Dur pernah menjabat Ketua Umum NU, ormas Islam terbesar di Indonesia pada tahun 1984 dan juga pernah menjabat sebagai Ketua MUI pada tahun 1987.

Komitmen Gus Dur untuk Indonesia mencapai puncaknya ketika beliau menjadi Presiden RI pada tahun 1999. Meski jabatan beliau tidak lama hanya sampai tahun 2001, Gus Dur meninggalkan banyak legacy yang sangat perlu untuk kita kenang hingga hari ini.

Semasa menjabat sebagai presien RI ke-4, Gus Dur mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina. Inpres ini dikeluarkan oleh presiden Soeharto yang menurut banyak kalangan sebagai bentuk diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Hal ini disebabkan karena Inpres ini melarang kegiatan keagamaan maupun budaya etnis Tionghoa diselenggarakan di tempat umum seperti perayaan Imlek yang hanya boleh di ruang kecil saja yakni individu dan keluarga.

Berbagai larangan yang menyangkut kegiatan etnis Tinghoa ini akhirnya memberikan akibat yang luar biasa di kemudian hari. Inpres ini membuat seakan-akan komunitas Tionghoa terpisah dari kelompok lainnya sehingga kemudian tumbuh stigma komunitas Tionghoa ekslusif dan enggan berbaur.

Harus kita akui, selama orde baru bahkan hingga detik ini warga Tionghoa mendapat perlakuan yang menyiratkan kekurangsukaan dan sinisme dalam pergaulan sehari-hari. Mereka sering dilabeli dengan “aseng” yang merupakan istilah yang setara dengan kata “asing” namun dalam konotasi yang negatif.

Padahal selama berabad-abad lamanya, etnis Tionghoa sudah menjadi bagian dari perjalanan bangsa ini. Kita mengenal nama Laksamana Muda John Lie yang merupakan pahlawan yang berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Atas jasanya, pemerintah RI memberikan anugrah Bintang Mahaputra Adiprana pada 2009. Namanya juga kemudian diabadikan menjadi kapal perang KRI John Lie (358) pada akhir 2014.

Dalam bidang olah raga kita mengenal Rudi Hartono yang menjadi salah satu legenda bulutangkis Indonesia. Kita juga mengenal Hendra Kartanegara, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ardi Wiranata dan Haryanto Arbi bersama dengan sederatan nama lain. Nama-nama tersebut telah membuktikan ke-Indonesiaan mereka dengan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Dalam perjalanan sejarah bangsa, mereka hadir dan ikut membangun negeri ini. Peran mereka sangat besar dan tak bisa dipisahkan dari etnis lain yang ada dalam merajut sejarah dan prestasi bangsa Indonesia.

Dalam pemikiran Gus Dur tak ada yang namanya pribumi dan nonpribumi. Bagi Gus Dur, tak ada yang namanya istilah “ orang asli ” Indonesia. Gus Dur meyakini bangsa Indonesia dibentuk oleh perpaduan ras Melayu, Astro-Melanesia dan Tionghoa. Dengan pemikiran itulah Gus Dur kemudian menginginkan ketiga ras yang disebut itu untuk menyatu secara bersama-sama untuk menjadi “Orang Indonesia”.

Atas dasar itulah Gus Dur kemudian menerbitkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 6 tahun 2000 untuk mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Kehadiran Kepres ini membuat masyarakat Tionghoa akhirnya bisa melakukan penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat secara terbuka tanpa memerlukan izin khusus seperti sebelumnya.

Sejak itu kita semua turut merasakan meriahnya perayaan Imlek dengan nuansa merah lampion gantung dan hiasan angpao yang semarak serta atraksi barongsai yang memukau. Di kemudian hari, Imlek secara resmi dijadikan hari besar nasional pada masa pemerintahan presiden Megawati Soekarno Putri.

Dari Gus Dur kita belajar bahwa kita harus mampu memanusiakan manusia tanpa melihat suku, ras ataupun agama. “Kalau tidak saudara dalam iman maka kita bersaudara dalam kemanusiaan”, kutipan dari Ali bin Abi Thalib ini terwujud dalam kebijakan yang terlahir dari seorang Gus Dur. Sehingga adalah sebuah kesalahan besar bagi kemanusiaan bila sebagian kita kemudian menjadikan perbedaan ras atau agama sebagai amunisi dalam politik identitas.

Kita sama-sama merasakan betapa politik nasional belakangan ini diramaikan oleh hegemoni politik identitas serta isu-isu intoleransi. Keberadaan TKI dari negara China dipolitisasi sedemikian rupa hingga menimbulkan keresahan dalam masyarakat kita. Penggunaan kata-kata “asing” dan “aseng” pun kembali muncul memanaskan suasana politik.

Akibatnya kebersamaan yang telah terajut dengan baik selama bertahun-tahun akhirnya koyak sekejap mata. Semburan kebencian dan isu intoleransi yang digunakan untuk ambisi politik adalah sesuatu yang jahat dan perlu kita lawan bersama bersama-sama demi kedamaian Indonesia.

Atas dasar konteks kebersamaan itulah, perayaan Imlek tahun ini hendaknya bisa menjadi momentum bagi kita untuk menyatukan semangat kebangsaan. Sebagai bangsa yang terdiri dari beragam etnis, Indonesia membutuhkan semua elemen bangsa yang ada untuk mempertahankan kesatuan Indonesia. Keragaman identitas tidak boleh dijadikan sumber perbedaan karena keragaman itu sendiri adalah raison de’tre dari terbangunnya negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Kita sama-sama mendoakan Indonesia akan terus memiliki tokoh yang memiliki pemikiran terbuka dan egalitarian serupa Gus Dur. Pemimpin yang menganggap perbedaan adalah rahmat dan kemanusiaan diatas segala kepentingan. Pemimpin seperti itulah yang akan mampu mewujudkan Indonesia yang toleran, aman, damai, bahagia dan sejahtera. Insya Allah.

Selamat tahun baru Imlek saudara-saudaraku, bahagia dan sejahtera untuk kita semua.

Komentar Facebook